Senin, 31 Mei 2010

MANAJEMEN MASJID

MANAJEMEN MASJID



Manajemen Keteladanan Rasulullah

Pembahasan tentang manajemen masjid dalam makalah ini mendasarkan diri sepenuhnya pada keteladan kehidupan Rasulullah dengan melihat sisi lain dari pengembangan manajemen modern. Semua aspek kehidupan Rasulullah, baik kondisi sosial, budaya, pendidikan, ekonomi, politik saat itu sangat layak untuk dijadikan sebagai pedoman bagi umat Islam sekarang dalam menjalankan segala aktivitas mereka di dunia ini.

Menarik untuk diungkap bahwa banyak dari teladan hidup Rasulullah ini yang dapat dijadikan sebagai tema-tema besar manajemen modern seperti: pemimpin yang kharismatis, strategi berbisnis, menjalin komunikasi yang baik, memimpin dengan hati, visi (Ilahiah), misi (Ibadah), kekuatan fokus (dalam menganalisa dan bertindak), mengelola waktu, memacu motivasi, penetapan target, need of achievement, dan masih banyak lagi. Singkat kata, Rasulullah adalah seorang pemimpin dan manajer jenius sehingga dapat mentransformasi masyarakat Arab dari keadaan jahiliah (rusak hati, mental, dan moral) menjadi masyarakat Islami yang berakhlak mulia, berhati bening, dan bermental baja. Sebaliknya banyak prinsip-prinsip manajemen modern yang terinspirasi oleh spiritualitas Islam seperti: istiqomah (konsistensi), niat (tindakan yang bertujuan), tawakkal (mengantisipasi perubahan yang serba tidak pasti), dan khusnuzzon (berpikir positif).

Kunci sukses manajemen kehidupan yang diterapkan oleh Rasulullah adalah: spiritualitas, yaitu kedekatan hubungan dengan Allah sehingga Allah mendekatkan semua makhluk-Nya kepadanya. Rasulullah hanya mengabdi kepada Allah sehingga Allah menjadikan semua makhluk-Nya mengabdi kepadanya. Rasulullah hanya tunduk kepada Allah sehingga Allah menjadikan semua makhluk-Nya
tunduk kepadanya. Rasulullah hanya mencintai Allah sehingga Allah menjadikan semua makhluk-Nya mencintai Rasulullah. Demikian seterusnya.

Telah banyak diketahui bersama bahwa sebagian besar kehidupan Rasulullah berada dalam lingkungan masjid, disamping bertempat tinggal di dalam lingkungan masjid, beliau juga sering berada di dalam ruangan masjid jika tidak ada kegiatan penting yang membuatnya keluar dari lingkungan masjid, dan menjadikan masjid sebagai pusat dakwah, pusat ibadah (mahdoh maupun ghoiru mahdoh), pusat kegiatan umat, pusat pendidikan dan pembinaan umat, pusat peradilan, pusat komando militer, pusat informasi, pusat konsultasi, pusat rehabilitasi mental, pusat zikir, dan masih banyak lagi yang lain. Dengan menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan umat, maka semua kegiatan umat yang bersifat duniawi ditundukkan pada kepentingan-kepentingan ukhrowi, semua kegiatan duniawi umat dapat di-Islam-kan.

Dalam kalimat lain, masjid menjadi poros dunia, masjid menjadi pilar spiritual yang menyangga kehidupan duniawi umat. Masjid mencerminkan seluruh aktivitas umat, masjid menjadi pengukur dan indikator dari kesejahteraan umat baik lahir maupun batin. Dengan demikian, tidak adanya masjid dalam sebuah wilayah yang berpenduduk agama Islam menjadi isyarat negatif akan adanya disorientasi kehidupan umat. Atau sebaliknya, ada masjid di tengah penduduk muslim, akan tetapi tidak digunakan sebagai pusat kehidupan umat. Dalam dua situasi ini, umat akan mengalami kebingungan dan menderita berbagai penyakit mental dan fisik serta tidak dapat menikmati distribusi aliran ridlo dan energi Allah.

Rasulullah selalu berdakwah kepada umatnya dengan menunjukkan keteladanan beliau dalam setiap ucapan dan tindakannya. Sebagai utusan Allah yang menjadi satu-satunya referensi umat, beliau menjadi tempat bertanya bagi umatnya, baik di dalam masjid maupun di kediamannya. Beliau menerapkan kebijakan “open house” kepada umatnya kapan saja dibutuhkan dengan tidak membeda-bedakan usia, jenis kelamin, nasab dan jabatan,. Rasulullah memperlakukan umatnya secara adil dan egaliter.

Setiap kali selesai mengimami shalat lima waktu, beliau selalu membalikkan punggungnya menghadap kepada para jamaah guna mengetahui situasi terakhir umatnya. Jika salah seorang umat tidak ikut berjamaah shalat, maka Rasulullah bertanya kepada para tetangganya, apa yang terjadi dengannya, apakah sedang sakit, bepergian atau terjadi halangan lain. Jika menderita sakit, maka Rasulullah menyempatkan diri untuk menjenguknya dan menggembirakannya.

Cinta Rasulullah kepada umatnya, jauh melebihi cintanya kepada isteri-isterinya. Bahkan jika dicermati, sedikit sekali perhatian dan waktu Rasulullah yang dicurahkan kepada para isterinya atau keluarganya karena waktu luang beliau banyak tersita untuk umat. Tidak ada waktu istirahat yang pasti bagi Rasulullah, mengingat betapa antusias para anggota umat untuk bertemu Rasul mereka. Sering terjadi, apabila beberapa anggota umat mengalami masalah dan kesulitan, maka pertemuan mereka dengan Raslullah, melihat wajah dan senyum Rasulullah saja sudah sangat menghibur mereka dan mencairkan masalah-masalah mereka. Ini membuktikan betapa terang sinar nur Illahi dalam diri Rasulullah, betapa deras dan berlimpah nur Illahi dalam diri Rasululah sehingga dapat menerangi kegelapan di sekitarnya, karena masalah-masalah dan kesulitan-kesulitan bersumber dari kegelapan (hati) sehingga apabila berhadapan dan berdekatan dengan Rasulullah yang merupakan “manusia cahaya” (Insan Kamil), maka semua masalah dan kesulitan tersebut, dengan izin Allah, menjadi sirna seketika.


Cinta Rasulullah adalah cinta murni yang bukan berasal dari dunia fana ini, melainkan cinta Ilahiah, yang berasal dari alam Malakut, yang melihat umat bukan dari kaca mata hawa nafsu (ego) tapi berdasarkan rasa belas kasihan yang sangat agar umatnya selalu berada dalam lindungan Allah dan memperoleh hidayah-Nya. Rasulullah sering diliputi kekhawatiran akan nasib umatnya dan menangis ketika mendo`akan umatnya agar diberi keselamatan, hidayah, taufiq dan ridho Allah dalam menempuh kehidupan dunia ini. Ini merupakan penerapan manajemen kasih sayang Rasulullah kepada umatnya yang terbukti dapat melunakkan dan bahkan meluluhkan hati sekeras batu karang sebagaimana yang pernah dimiliki oleh Umar bin Khaththab sebelum memeluk agama Islam.

Ciri utama dari cinta Ilahiah dari Rasulullah ini adalah semakin disebar dan didistribusikan cinta Ilahiah ini kepada semakin banyak individu-individu umat, maka semakin cinta Ilahiah ini memancarkan keindahannya, semakin menunjukkan kekuatannya. Sebaliknya, jika cinta Ilahiah ini dikerangkeng dan dibatasi hanya kepada isteri-isteri dan anak-anaknya sendiri, maka cinta Ilahiah ini, justeru akan semakin melemah dan meredup sinarnya.

Manajemen kasih sayang (cinta) yang diterapkan Rasulullah, secara gemilang berhasil menciptakan suasana umat Islam yang solid, kompak, harmonis, saling menyayangi satu sama lain, satu rasa, satu gembira dan satu derita sebagaimana sabda Rasulullah yang menyatakan bahwa permisalan umat Islam adalah bagaikan sebuah tubuh yang jika salah satu anggotanya sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain akan ikut merasakan sakitnya juga. Inilah hakikat dari ukhuwwah Islamiah yaitu suatu persaudaraan spiritual, persaudaraan yang melampaui kepentingan-kepentingan (bisnis, politik, budaya) keluarga, keturunan, kelompok, etnis dan bangsa; persaudaraan yang dijalin oleh umat yang merupakan kumpulan manusia-manusia bercahaya (Munawwar Bi Nurillah).

Jika saja umat Islam modern sekarang ini dapat mewarisi ukhuwwah Islamiyyah dalam arti yang sebenarnya sebagaimana telah diterapkan dalam zaman Rasulullah, maka umat Islam akan mengalami perkembangan dan peningkatan kualitas secara pesat sehingga bukan saja dapat berdiri tegak sejajar dengan umat-umat lain, bahkan dapat melampaui mereka sebagaimana telah terbukti dalam sejarah masa lalu umat Islam.

Umat Islam binaan Rasulullah selama periode Madinah ini adalah sekumpulan individu-individu yang telah mencapai kualitas hati yang bening (karena disinari oleh nur Illahi), sebuah hati yang hanya diisi oleh Allah semata. Tidak ada satu makhluk (anak, isteri, orangtua, dll.) pun yang “sempat menginap” di dalam ruang hati mereka. Hati mereka telah mencapai derajat tauhid tingkat tinggi. Hati yang telah mencapai kualitas tertinggi ini, “hanya dapat bersikap ikhlas, tawakkal, qonaah, sabar, zuhud, khouf, malu (untuk bermaksiat) dalam menjalankan semua aktivitas duniawi demi mengharapkan ridho Allah. Inilah yang disebut dengan menjalankan kehidupan berdasarkan manajemen qalbu dimana Allah menganugerahi umat berupa hati yang tenang (muthmainnah) dan peka, kecerdasan spiritual (mudah memperoleh hidayah Allah), kecerdasan emosi (interaksi sosial yang berdasarkan akhlak yang mulia), kecerdasan akal (mudah memperoleh inspirasi), kecerdasan fisik (fisik yang kuat dan lentur, terampil berolahraga dan olah gerak lainnya), dan kreatif.

Jadi, umat Islam generasi pertama ini membentuk sebuah kesatuan spiritual, kesatuan sosiologis, kesatuan politis, kesatuan ekonomis, dan kesatuan psikologis yang tunduk dan patuh pada hukum-hukum syari`ah. Soliditas umat ini dicapai terutama dengan prestasi-prestasi spiritual umat yang meneladani kehidupan spiritual Rasululah. Prestasi-prestasi spiritual umat ini merupakan produk langsung dari penerapan manajemen kasih sayang dan manajemen qalbu terhadap semua aspek kehidupan dunia.

Managemen Qolbu

Berawal dari manajemen ibadah di masjid yang mengarah pada manajemen kehidupan umat. Bahwa manajemen kehidupan umat Islam bersumber dari manajemen masjid. Semakin berkualitas manajemen masjid yang diterapkan, maka semakin berkualitas pula manajemen kehidupan dari masyarakat pendukung masjid tersebut.

Berawal dari kehidupan spiritual-ukhrowi, yang berpusat di masjid, yang mencerahkan semua aspek kehidupan sang hamba Allah. Dunia materi sang hamba yang fana ini menjadi ajang pembuktian anugerah rahmat dan hidayah Allah kepada hamba-Nya. Hamba Allah ini akan membuktikan tahap demi tahap, putaran demi putaran kehidupan pribadinya betapa Allah menyayangi, melindungi dan membimbingnya dalam setiap langkah, ucapan dan tindakannya dalam menjalani kehidupan di dunia fana ini.

Demi penataan dan pengelolaan manajemen masjid yang ideal, maka dibutuhkan partisipasi dan keterlibatan hamba-hamba Allah yang memiliki kualifikasi-kualifikasi spiritual seperti ber-taqorrub kepada Allah, bersikap zuhud (dari dunia), ikhlas, tawakkal, dan lain-lain. Beberapa kualifikasi ini, idealnya, dicapai oleh para hamba Allah yang menerima amanat untuk memakmurkan masjid karena prestasi amal soleh dan akhlakul karimah mereka dan karena kebersihan hati mereka dari berbagai kotoran dan penyakit hati. Pada intinya, para takmir masjid adalah para pemuncak spiritual dalam suatu masyarakat pendukung masjid yang berupaya meneladani kepribadian yang hanif dan Islami dari takmir masjid pendahulu mereka yaitu Nabi Ibrahim Kholilullah dan Muhammad Rasulullah yang telah sukses memakmurkan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi sehingga menjadi dua masjid ideal sepanjang masa yang dijadikan pedoman bagi para takmir masjid di seluruh dunia.

Berdasarkan beberapa ayat al-Qur`an dan kajian yang cermati dari sejarah hidup dua tokoh teladan di atas tentang pendirian dan pengelolaan masjid ideal yang berbasis iman dan taqwa, maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh para takmir masjid:

Pertama, Perolehan hidayah Allah. Hendaknya para takmir masjid yang dibentuk sebagai para wakil terpilih dari sebuah masyarakat pendukung masjid, mengupayakan perolehan hidayah Allah terlebih dahulu dan yang paling utama tentang lokasi berdirinya sebuah masjid, dengan cara mendirikan shalat hajat secara berjamaah dengan tujuan memohon hidayah Allah dengan keyakinan bahwa Allah akan memberi hidayah-Nya kepada hamba-hambanya yang memohon petunjuk. Jika syarat ini tidak dipenuhi (misal: hanya melalui rapat dan musyawarah saja), dikhawatirkan penentuan lokasi masjid yang akan dibangun, hanya berlandaskan pada hawa nafsu (ego) dari para takmir. Sebagaimana telah diketahui luas bahwa Allah memberi hidayah kepada Nabi Ibrahim dengan membimbing langkah beliau (beserta Siti Hajar dan Ismail yang masih bayi) menuju tanah Hijaz dan membangun Ka`bah disana. Demikian pula, Allah memberi hidayah kepada Muhammad Rasulullah ketika pertama kali tiba di kota Madinah, melalui untanya Quswa, tentang penetapan lokasi masjid Nabawi. Terbukti bahwa perolehan hidayah Allah dalam penetapan lokasi dan pembangunan kedua masjid di atas menjadi langkah awal sekaligus pemicu bagi perolehan hidayah-hidayah dari Allah yang menyusul kemudian.

Jika Ibrahim dan Muhammad SAW jelas-jelas merupakan dua Rasul Allah yang telah mendapat jaminan hidayah dari Allah, maka para takmir masjid di zaman modern ini, yang belum jelas mendapat hidayah Allah, perlu memohon hidayah kepada Allah dengan cara mendirikan shalat Hajat dan shalat Istikharah misalnya.Syarat pertama ini menunjukkan bahwa manajemen masjid ideal berbasis hidayah inilah yang akan melahirkan komunitas umat berbasis spiritual (Spiritual Based Community). Perolehan hidayah ini menunjukkan bahwa semua pihak yang terlibat dalam pembangunan dan pengelolaan masjid benar-benar menjadi hamba-hamba (budak-budak pembantu rumah Allah) yang tidak mempunyai kehendak dan kekuatan sendiri, melainkan hanya menjalankan kehendak Allah semata. Allah mencintai hamba-Nya yang benar-benar menunjukkan ke-hamba-annya di muka bumi ini.

Hendaknya, perolehan hidayah Allah, tidak hanya diterapkan pada penentuan dan pendirian lokasi masjid, tetapi juga diupayakan pada penentuan dan pemilihan para takmir masjid yang akan dilibatkan dalam manajemen masjid baru ini. Perolehan hidayah juga diupayakan pada penentuan dan penetapan rencana-rencana pemakmuran masjid ke depan yang berupa program-program jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Para takmir yang memperoleh hidayah ini akan memiliki visi (Ilahiah) yang menembus jauh ke masa depan yang tidak akan dapat diperhitungkan secara pasti oleh manusia-manusia dengan rasio paling cerdas sekalipun. Hanya waktu yang akan membuktikan betapa hidayah Allah itu benar adanya. Jadi, salah satu sifat hidayah Allah adalah mendahului zaman.

Kedua, Takmir masjid ideal adalah yang full-timer, profesional, otonom, yang seluruh misinya dalam mengelola masjid adalah beribadah (=mengabdi) kepada Allah.

Full-Timer. Takmir masjid yang ideal adalah yang mengabdikan hidupnya untuk kemakmuran Baitullah. Ini merupakan tradisi yang telah berlangsung ratusan tahun di banyak negara Muslim. Pengabdian seumur hidup kepada Allah dengan cara memelihara, merawat dan mengelola Baitullah ini mendasarkan diri pada hakikat masjid sebagai pusat realitas dan pusat dunia umat Islam dimana seluruh masjid disini bukan hanya sekadar mengurusi ibadah mahdoh saja atau ibadah dalam arti sempit. Lebih luas lagi, tugas yang sangat menantang dari takmir masjid ini adalah menjadikan dunia ini sebagai Islamic Center dengan cara mengusung dan memindahkan kegiatan-kegiatan duniawi ke dalam lingkungan masjid sehingga kegiatan-kegiatan duniawi tersebut mendapatkan sentuhan syariah dan secara spiritual, dapat menerima aliran nur Illahi. Dengan demikian, di dalam lingkungan masjid, bukan hanya terdapat kegiatan-kegiatan ibadah mahdoh dan ghoiru mahdoh saja dalam artian yang sempit, tetapi juga mencakup dan menyerap profesi-profesi baru yang bermunculan di zaman modern ini seperti profesi jasa konsultan manajemen bisnis, manajemen spiritual, lembaga ekonomi kerakyatan (koperasi), Lawyer, Notaris, Trainer SQ (Spiritual Quotient=Kecerdasan Spiritual), EQ (Emotional Quotient), IQ (Intelligence Quotient) PQ (Physical Quotient) dan Skills (Keterampilan-keterampilan). Pada intinya, semakin banyak profesi-profesi modern yang diintegralkan di dalam lingkungan masjid, maka akan menjadi semakin ideal masjid tersebut.

Manajemen Modern

Pada dasarnya, manajemen dalam arti kegiatan perseorangan atau kelompok (organisasi) telah ada sejak manusia mulai mengenal pola kehidupan menetap (tidak nomaden) di sebuah tempat dengan ciri utama kegiatan pertanian yang menandai awal peradaban umat manusia dalam kehidupan di dunia ini. Manajemen yang diterapkan pada masa tersebut masih sangat sederhana. Seiring dengan perkembangan zaman, maka kehidupan umat manusia menjadi semakin beragam dan kompleks sehingga membutuhkan manajemen yang canggih pula. Manajemen berkembang mengikuti perkembangan sebuah masyarakat. Manajemen merupakan produk dan cermin dari sebuah masyarakat tertentu dalam sebuah wilayah. Jika bentuk masyarakatnya sederhana, bersifat homogen, berorientasi paguyuban, tradisi lisan yang masih kental, pola hubungan primer, maka situasi sosial semacam ini akan tercermin dalam manajemen yang diterapkan. Sebaliknya, jika sebuah masyarakat bersifat sangat kompleks dalam arti seluruh unsur-unsur di dalamnya saling kait-mengkait (sehingga menghasilkan berbagai konflik), tingkat heterogenitas yang tinggi, pola hubungan berdasarkan kepentingan (profesi), tradisi tulis-menulis yang kuat, pola komunikasi sekunder (melalui telepon, internet), maka corak manajemen yang diterapkan akan mengalami pencanggihan pula. Peran-peran dan fungsi-fungsi sosial yang baru sebagai hasil dari perubahan masyarakat melahirkan kebutuhan-kebutuhan baru yang beragam sehingga menuntut pola manajemen yang berbeda-beda pula. Dapat dikatakan, bahwa tidak ada definisi final tentang manajemen karena ia senantiasa berkembang mengikuti perkembangan masyarakat.

Meskipun demikian, terdapat beberapa prinsip manajemen yang telah baku dan tetap sifatnya. Arti sederhana manajemen tidak lain adalah merencanakan, mengelola, mengurus, memimpin dan membimbing. Sedangkan timbulnya kegiatan perencanaan, pengelolaan, kepemimpinan itu karena adanya tujuan bersama yang ingin dicapai.

Maka pengertian manajemen secara umum adalah kegiatan perencanaan, pengelolaan, pengendalian dengan mengunakan sumber daya manusia dan sumber daya alam yang tersedia guna mencapai tujuan. Dengan pengertian seperti ini, maka manajemen telah memasuki seluruh aktivitas manusia dan berkembang sesuai dengan spesifikasi atau ciri masing-masing.

Dengan demikian ada tiga hal prinsip yang harus ada dalam manajemen yaitu :
1. Input., masukan awal atas bahan baku yang akan diproses sampai menjadi out put atau tujuan yang akan dicapai.
2. Proses., serangkaian kegiatan yang meliputi perencanaan (planning), pengelolaan (organizing), pengorganisasain (actuating) dan pengendalian (controlling) untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Keseluruhan proses kegiatan ini menghasilkan unsur-unsur manajemen.
3. Out put, akhir atau tujuan yang ingin dicapai melalui serangkaian proses kegiatan itu sendiri.

Dalam proses manajemen masjid maka inputnya adalah kaum muslimin atau jamaah yang menjadi pendukung sebuah masjid lalu diproses dengan berbagai kegiatan baik di dalam ruangan masjid maupun lingkungan masjid, yang out putnya atau pada akhirnya akan membentuk manusia yang taqwa atau insan kamil sebagai tujuan dari seluruh proses kegiatan di masjid..

Demikian semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar